Mengenal Tehnik Kain Tie Dye Humbang Shibori

Melihat peragawati melenggak-lenggok di catwalk pasti membius kita. Entah karena ilusi badannya yang “sempurna”, langkahnya yang indah dilihat, matanya tajam menatap ke depan. Melayang langkahnya, seringan pakaian yang dikenakannya. Saya selalu menyimpan kenangan indah ini dalam memori saya.

Yang indah akan selalu indah. Dan saya seringkali membeli sesuatu karena cerita di belakangnya. Entah selembar kain, sepotong lukisan, atau sebentuk kopi. Batik Imogiri yang jadi cinta saya karena sepanjang memilih dan melihat-lihat batik di sana mendengarkan tuturan pebatik tua. Jatuh cinta dengan dompet dan tas karena tahu usaha itu didedikasikan untuk komunitas tertentu. Saya suka memiliki barang dengan cerita. Karena di situlah ikatan emosinya.

Continue reading “Mengenal Tehnik Kain Tie Dye Humbang Shibori”

Terima Kasih, Udin

Jalur irigasi yang nyaris tak berisi air. Jalan lintas yang berdebu. Dan warung-warung kecil yang seakan menyeruak begitu saja dari rumah yang hanya sepetak. Kaki anak-anak berbalut debu dan tanah, usai lelarian di siang yang panas.

Pemandangan ini tak beda jauh dari gambaran dua tahun lalu ketika menyusur jalan yang sama. Rasanya  Serang bergerak lambat dari kebaruan. Dua tahun lalu saya ikut menyusur jalur irigasi itu untuk sampai di sebuah sekolah di Kragilan.  Anak-anak yang gembira  mendapat  meja kursi baru untuk belajar sehari-harinya.  Meja kursi yang baru saja selesai dicat. Greshhhh…..anyar, masih wangi.  Seolah-olah  meja kursi itu barang yang begitu berharga di sekolah dasar tersebut.

Continue reading “Terima Kasih, Udin”

Suherman: Selalu ada Waktu untuk Berkarya

Serang Banten yang terik siang itu, menjadi lebih teduh dengan senyuman Herman, Suherman nama lengkapnya. Lelaki 35 tahun itu senang kalau ada tamu berkunjung ke rumah yang sekaligus jadi bengkel kerjanya. Halaman rumah yang cukup luas ia jadikan bengkel kerja untuk membuat cinderamata khas Banten. Kami duduk di kursi kayu yang ia buat. Tembok yang jadi latar belakang di cat hitam dengan tulisan putih “ Masih ada Waktu untuk Berkarya.”

Setiap tamu yang datang berarti rezeki baginya. Entah memesan cinderamata atau ingin tahu lebih jauh tentang Cipta Handycraf yang dikelolanya. Baru dua tahun ia jalani membuat berbagai kerajinan dari kayu ini. Tadinya dia dan saudara-saudaranya bekerja sebagai panglong, membuat kusen rumah. Sekali order tak luput 5-15 juta ia dapatkan. Tetapi tak pasti, setahun hanya berapa kali order. Itu artinya, ia harus menata benar-benar uang yang didapat. Dengan pendapatan segitu, harus dibagi dengan beberapa tenaga yang membantunya. Biasanya nilainya jadi jauh di bawah UMR Serang.

Continue reading “Suherman: Selalu ada Waktu untuk Berkarya”