Desa ini Hebat, Larang Warganya Merokok

Tiga jam kami terguncang-guncang dalam perjalanan dari Jambi ke Desa Sungai Keruh, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi. Tak sempat meluruskan punggung, Kepala Desa Sungai Keruh sudah menyapa kami. “Saya sudah tunggu sejak pagi,” ujar Suwarno sumringah. Kami memang telat dari janji untuk datang sepagi mungkin dari Jambi.

Suwarno semangat untuk segera mengabarkan perkembangan desanya. Pantas ia bangga. Tahun 2018 lalu, desanya menjadi juara tingkat nasional untuk Lomba Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) dan Tanaman Rumah Tangga.

“Meski di desa, kami pastikan bahwa semua rumah tangga di desa ini memiliki jamban sehat. Perlu waktu untuk sosiasilisasi, tetapi hasilnya bisa kita nikmati kini,” ujarnya. Oh ya, pejuang hidup sehat pasti akan bangga juga tinggal di desa ini. Merokok hanya boleh dilakukan di tempat-tempat yang sudah disediakan. Pojok merokok mereka menyebutnya. Di setiap tempat disediakan sudut-sudut untuk merokok ini, termasuk di kantor Suwarno.

Bisa dibayangkan perjuangan untuk menerapkan peraturan ini. Rata-rata transmigran yang sudah masuk generasi ketiga ini adalah petani sawit awalnya. Pendapatan sudah bisa dihitung dengan pasti. Saat-saat panen pastilah mereka memiliki uang yang melimpah. Konsumsi rokok tentu menjadi hal yang jamak. “Justru di sini tantangannya,” ujar Suwarno. Ia melakukan sosialisasi melalui acara kendurian, pengajian dan pertemuan rutin lainnya. “Saya sendiri menjadi contoh. Mau tak mau harus berpisah dengan rokok,” tambahnya.

Untuk menjadi juara PHBS tak mudah. Ada 10 kriteria yang harus dipenuhi: anak-anak yang baru lahir harus mendapatkan ASI ekslusif, menimbang bayi dan balita secara rutin, cuci tangan dengan air bersih, tidak merokok, memiliki jamban sehat, memberantas jentik nyamuk, makan buah dan sayur, air bersih dan adanya aktivitas fisik.

Agro Wisata

Soal buah dan sayur tak perlu khawatir kini. Warga bisa mengusahakan sendiri di pekarangannya. Predikat juara tak hanya disandang saat ini saja, tetapi sudah sejak 2013, meski baru tingkat kabupaten.  Dari 186 kepala keluarga, hampir rerata warganya petani sawit. Di antara waktu panen sawit, banyak waktu luang yang dimiliki masyarakat. Suwarno tak ingin warganya berpangku tangan saja menunggu panen. Ini menjadi perhatiannya. Ia meyakini setiap orang ingin hidup bahagia dan tak memiliki kekhawatiran  tentang masa depan anak-anaknya.  Ia mengajak warga untuk bercocok lanam di halaman rumahnya. Tanaman sederhana saja, yang mudah dipanen setiap saat. Jadilah cabai, terong, tomat, dan aneka sayuran lainnya mereka tanam. Hasilnya tak hanya untuk konsumsi keluarga tetapi juga bisa dijual.

Saat itu sudah ada  beberapa warga menanam melon. Ini jenis tanaman yang tak mudah untuk dirawat sebetulnya. Tetapi ternyata hasilnya menggembirakan. Panen yang berlimpah membuat warga senang. “Mereka juga selfi-selfi di kebun melon sebelum membeli. Saya melihat ini sebagai peluang,” tambahnya.

Tepat setahun lalu, ia mengajak masyarakat untuk menanam melon lebih banyak lagi. Ia gunakan tanah desa sebagai projek percontohannya.  Di lahan 0,3 hektar, panenan melon berlimpah. Dari berbagai uji coba, tak kurang dari lahan tersebut mampu menghasilnya kurang lebih 45 juta.

Riyanto, adalah petani andalan Suwarno. Ia yang mengajak beberap anak muda untuk berani mencoba. Di lahan yang hanya 0,3 hektar itu, ia terus memikirkan bagaimana bisa efektif hasilnya. Ketika kami datang, dua minggu lagi panen raya akan dilakukan di desa tersebut. Dari  hasil 45 juta pada waktu panen pertama, diperkirakan tak kurang 120  juta bisa dihasilkan nanti, atau naik 167% dari panenan awal.

“Ini panen keempat. Dan hasilnya semakin bagus, ujar Riyanto. Setiap panen, masyarakat sekitar pasti ikut mencicipi melon segar dari tanah desa ini. “Ibarat promo, sekarang kita kasih, lama-lama mereka pasti akan membeli juga karena tahu kualitasnya,” tambah Riyanto.

Kini, hasil melimpah dari kebunnya sudah pasti ada  pembeli. Tak perlu ia jual sampai ke pasar, tetapi pedagang-pedagang akan mengambil sendiri di kebun Sungai Keruh. Riyanto tak sendiri.  Bersama beberapa warga mereka menjadi pionir. Kini, tetangga-tetangganya mengikuti jejaknya. Dari 1600 batang yang ditanam, kini satu lahan saja  sudah bisa ditanami 3600 batang.

Tak hanya melon, di samping kiri kanan atau halaman depan warga pun kini dipenuhi cabai dan sayuran lainnya. Terbaru, mereka mengembangkan lele melalui bioflok. Pasarnya tak perlu dicari.  Serapan lele di desanya pasti mencukupi. Dibandingkan wilayah lain,  Desa Sungai Keruh menghasilkan perputaran ekonomi yang lebih tinggi. Dana desa pun bisa dimanfaatkan maksimal.

Wisata Air

Sebagai kepala desa, Suwarno ingin warganya makmur, badannya sehat dan bisa plesiran. Ia tak ingin warganya darurat kurang piknik. Dulu untuk bisa wisata, warganya perlu jalan jauh ke arah Jambi. Kini tak perlu lagi. Mereka membuat wisata air di desa tersebut, namanya Wahana Tirta Sari. Tiap sore selalu ramai. Terlebih di hari Minggu. Wisata air ini akan dibuka dari pagi hingga sore. Kelengkapan safety pun mereka pikirkan. Sambil menunggu bisa naik perahu-perahu bebek, anak-anak yang lain bisa bermain jungkat-jungkit, perosotan atau jajan di warung-warung yang sudah disediakan. Ibu-ibu pun bisa duduk menunggu di beberapa gazebo yang ada. “Sekarang masih gratis untuk masyarakat. Nanti kalau fasilitasnya lebih lengkap, baru kita tarik dana untuk membantu operasional. Lebaran haji kemarin, tempat ini seperti jadi hadiah untuk warga,” ujar Suwarno.

Perkembangan desanya tak lepas dari peranan perusahaan di ada yang ada di wilayahnya. PT Wirakarya Sakti melalui program Desa Makmur Peduli Api (DMPA) membantu desa ini berkembang maju dengan pesat. Melalui DMPA, sebetulnya perusahaan ingin mengurangi pembukaan lahan dengan cara bakar dan juga meningkatkan pendapatan masyarakat dengan berbagai program pemberdayaan.

“Dengan berbagai bantuan dari perusahaan, berbagai kegiatan yang kami usahakan untuk membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Selain itu, masyarakat tidak perlu terus menerus membuka lahan dengan cara bakar. Kami berharap, dengan begini potensi kebakaran hutan pun bisa dikurangi,” jelas Suwarno.

Betul juga bila ada yang mengatakan yang berani berpeluh pasti tak mengeluh. Beragam kegiatan desa  berujung pada peningkatan pundi-pundi masyarakatnya. Tepat seperti semboyan Tanjung Jabung Barat: bumi serengkuh dayung serentak tujuan.

Yuk kita jalan-jalan ke Desa Sungai Keruh.

Dan Lelakipun Kembali

Saya tidak punya gambaran tentang Desa Delima sebelumnya. Ini kunjungan pertama.  Dan saya jatuh cinta dengan semangatnya.  Ada gairah yang sulit diungkapkan  kata-kata.

Debu tebal mengiringi perjalanan kami dari Sei tapa. Tiga puluh menit lamanya. Dari Jambi bisa 3,5 jam.  Desa Delima, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi, tepatnya.  Belum terlalu lama menjadi desa mandiri sebetulnya. Pemekaran dari Desa Purwodadi pada tahun 2008. Lalu menjadi desa mandiri pada tahun 2011, dan memiliki kepala desa  pertama kalinya pada tahun 2016.  Suhono,  namanya.

Ketika kami sampai di Desa Delima, Suhono sedang ngariung duduk di lantai bersama beberapa warga. Baju safari coklat khas perangkat desa menempel di badannya. Emblem tertera di saku kanannya. “Ayo masuk, kita ngobrol di dalam,” ajaknya.  Padahal, kami sebetulnya  pengen duduk di lantai saja. Panasnya Jambi terasa mencubiti pipi.

Continue reading “Dan Lelakipun Kembali”

Delima, (Kembang) Desa yang Selalu Gelisah

Zuvita bungah.  Terik  matahari siang tak dihiraukannya.  Ia berlari ke depan rombongan kami. Lalu mendadak berhenti. Mengeluarkan handphone  dengan cover lucu, entah gambar kucing atau panda. Coklat muda warnanya. “Cheerrsssss!” teriaknya. Kamipun sigap dengan permintaan wefienya.

Wajah Zuvita memerah.  Mungkin karena matahari  yang makin terik, tetapi saya yakin karena ronanya bahagia.  Kami baru saja diskusi tentang desanya, Desa Delima, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi.

Continue reading “Delima, (Kembang) Desa yang Selalu Gelisah”