Bunda, Telpon dari Bos

“Bunda, ada telpon dari Bos,” ujar Benaeng, sambil menyorongkan HP.

Telpon dari bos, dan itu artinya pekerjaan. Hampir saja kami terlelap. Karena sudah masuk jam malam. Biasanya mata terpejam maksimal jam 10 malam.  Dan ini sudah lebih.

“Besok pagi ada event jam 10. Ada menteri dan duta besar hadir. Event sudah disiapkan, tetapi belum ada media yang diundang untuk meliput. Tolong bantu ya,” begitu pesan singkat diwartakan. Lagi-lagi saya tak punya kesempatan untuk bertanya detail acara dan bagaimana hubungan kita dengan kegiatan bisnis tersebut.  Saya hanya memikirkan ‘jam terjaga’ teman-teman di media yang paling tidak hingga jam 12 malam.  Lagi-lagi akrobat harus dilakukan. Saya siapkan draf undangan dan siap didistribusian melalui WA. Ke semua kontak yang saya punya. Setelah itu, hanya bisa berdoa, apa yang terjadi terjadilah. It will be will be. Lalu berusaha terpejam. Toh saya sudah memasrahkan pada alam miracle untuk besok pagi.

Continue reading “Bunda, Telpon dari Bos”