Ketika Waktu Menjadi Musuh

Hampir mendekati dini hari ketika kami sampai kembali ke Fire Operation Management (FOM) Mitra Sinar Mas di Sei Baung, Sumatera Selatan. Lebih dari enam orang masih berjaga di depan laptop, monitor layar lebar dan juga radio repiter. Evaluasi kegiatan sepanjang hari ini sudah dilakukan beberapa jam lalu. Tetapi bukan berarti pekerjaan berhenti. Di saat malam, kewaspadaan tim FOM justru meningkat. Di saat musim kering saat ini, ditambah angin yang bertiup kencang, potensi kebakaran tetap rawan terjadi.

Di saat helikopter berhenti meraung di udara pukul 17.00, pasukan darat tetap berjibaku memadamkan api ataupun melakukan pendinginan di wilayah yang terbakar. Daerah yang terbakar , materi bakar yang cukup banyak dan kelalaian manusia, jadi bencana besar kalau terjadi kebakaran. Tim pemadaman darat ini baru akan berhenti bekerja pukul 22.00.

Siang tadi kami melintas hutan gelam yang terbakar. Gelam ini sering digunakan masyarakat untuk membuat pondasi rumah karena kekokohan kayunya. Saat kebakaan besar terjadi pada tahun 2015, banyak hutan gelam yang terbakar. Dan kini entah kenapa tahun ini, api singgah lagi.

Berhari-hari terbakar, hutan gelam hanya menyisakan sisa pohon yang tertunduk ke tanah. Sisanya abu dan asap tipis yang masih nampak di beberapa tempat. Mata awam barangkali akan melihat daerah ini sudah aman dari bahaya kebakaran, karena tak ada lagi pohon tegakan. Tetapi di mata fire fighters, masih ada asap berarti tetap berpotensi terjadi api.

Nurdin tandem dengan Iwan, satu memegang nozzle dan satu lagi memegang selang. “Selang harus harus ada yang memegang dan mengawasi karena bisa nyangkut dan susah ditarik diantara pohon-pohon sisa kebakaran,” ujar Hendra dari Regu Pemadam Kebakaran (RPK) Sinar Mas yang mendampingi kami siang itu. Nurdin dan Iwan juga dari pasukan yang sama. Di sudut lain kami juga melihat petugas pemadam kebakaran berdua. Tandem di lapangan ini penting, untuk saling menjaga keselamatan mereka. Pemegang nozzle, bisa jadi tidak melihat ancaman kebakaran di sudut lain karena fokus pada pandangan ke depan. Rekannya yang mengawasi keadaan sekitarnya.

Kelompok kecil petugas ini, akan beristirahat tak jauh dari tempat mereka bertugas. Tenda kecil di bangun.  Beberapa veltbed disiapkan. Jemuran darurat ada di bagian belakang tenda mereka. Kadang tanpa pelita. Bila malam datang, bukan lagi gelap, tetapi pekat. Untuk orang kota barangkali ini saat tepat melihat bulan dan juga bintang di langit saat cuaca cerah. Tetapi buat petugas di lapangan ini, bintang-bintang di langit inilah yang menemani malam mereka.

Incident Command System

Keperluan logistik untuk menyalakan mesin pompa air, makanan tiap pagi, siang dan malam juga tambahan personel ataupun keperluan obat-obatan mereka koordinasikan dengan posko utama yang dibangun beberapa kilometer dari posko kecil mereka.

Di posko utama, radio panggil tak berhenti bersuara. Berisik. Laporan dari berbagai posko-posko kecil untuk mengabarkan kondisi terkini, selalu mereka terima. Jam 6, 10 dan 16 petugas akan mendistribukan makanan dan minuman kepada teman-teman di lapangan. Sebagian didistribusikan dengan kendaraan kalau sudah terhubung dengan jalur darat, tetapi ada pula yang perlu dikirim dengan ketingting dan perahu ketek melalui sungai atau kanal yang ada. Tak melulu makanan dan minuman, tetapi juga pelumas untuk mesin-mesin mereka, peralatan tambahan, juga obat-obatan. Keterlambatan distribusi ini bisa mengacaukan pekerjaan di lapangan. Bila diperlukan pasukan tambahan, harus segera dikomunikasikan. Demikian juga dengan peralatan berat yang digunakan setiap harinya. Exavator untuk membuat jalur sekat bakar, atau kendaraan lain untuk mencuci kanal.

Itu belum seberapa. Peta terbaru dari kebakaran dari waktu ke waktu juga harus tersampaikan kepada tim di lapangan. Supaya mereka tahu, kearah mana saja sekat bakar harus dibuat dan berapa panjang. Begitu juga kru helikopter bisa membasahi lahan agar kepala api tak meluas menyambar-nyambar.

Informasi cuaca, peta kebakaran, pengerahan helikopter, berapa banyak sortie bombing dilakukan hingga akses peta secara offline semuanya dirancang di FOM. Informasi-informasi rumit harus bisa disederhanakan agar mudah dipahami tim pelaksana di lapangan.

Sistem komando insiden (SKI) atau Incident Command System (ICS) merupakan konsep manajemen untuk segala jenis insiden yang terstandar dan dilakukan di lokasi kejadian. ICS ini memberikan ruang bagi berbagai pihak untuk membangun proses perencanaan, Startegi operasional, dan manajemen sumber daya secara terpadu.

“Kita menggunakan ICS sejak 2016. Ini membuat pekerjaan rumit menjadi mudah. Pendekatan ini merupakan pendekatan standar untuk komando, control, koordinasi respon darurat sehingga pekerjaan lapangan mejadi lebih efektif,” ujar Mares Prabadi, Fire Operation Management Head Sinar Mas Region Palembang.

Apa yang paling penting dari ICS? Perencanaan adalah rantai proses yang utama. Perencanaan ini mewujudkan suatu operasi penanganan insiden yang sudah terukur, terpadu, dan terkoordinasi sehingga insiden dapat ditangani secara efektif. Efektif berarti penanganan insiden dapat diselesaikan dengan pemanfaatan sumber daya (personel dan peralatan) berdasarkan fungsi dan waktu yang terukur.

Dalam perencanaan ada prioritas, target, strategi dan juga taktik. Biasa juga disebut POST, priority, objective, strategy dan tactic.  Prioritas terkait dengan pilihan-pilihan utama untuk penanganan insiden dengan memperhitungkan sumber daya, akses dan peralatan. Di dalam tujuan, biasanya digunakan parameter SMART atau specific, measurable, actionoriented, realistic dan timely. Taktik merupakan pengiriman dan pengarahan sumber daya pada suatu insiden dalam rangka untuk menyelesaikan tujuan berdasarkan strategi yang telah disusun.

“Dari size up yang dilakukan tim udara digabungkan dengan data satelit, kita akan tahu luasan kebakaran dan dikordinat mana saja. Dari situ kita bisa membuat perencanaan untuk menerjunkan tim dan peralatan,” papar Mares. Meskipun sudah direncanakan, tetapi tetap saja diperlukan rencana kontijensi untuk menghadapi situasi dinamis di lapangan.

Itulah sebabnya hingga tengah malam mereka masih tetap berkoordinasi memantau situasi lapangan dan memastikan keamanan anggotanya. Di tengah lalu lalang petugas pemadam kebakaran – branwir atau brandweer – di tengah hempasan debu dan terik matahari di siang hari, mereka taat prosedur. Pemadaman kebakaran selalu terburu oleh waktu. Makin lama penyelesaian, hanya akan menyebabkan kebakaran yang lebih luas. Dan itu yang mereka hindari. Setiap upaya pemadaman bukan hal yang murah dilakukan. Ia melibatkan teknologi canggih dan juga pengerahan pasukan yang besar serta biaya yang tak sedikit untuk menggerakan semua itu. “Perencanaan itu teman dan waktu itu musuh,” ujar Mares.

Tak Layak Kita Memaki

Hutan lindung gambut (HLG) Londrang sepertinya lebih banyak puing ketimbang pohon tegak berdiri, kini. Dihajar api berhari-hari, pohonpun tak kuat lagi berdiri. Terlebih material bakar banyak dijumpai di hutan lindung gambut tersebut. Bila siang, mendekati daerah tersebut, mungkin kita hanya menjumpai perih di mata.

Kami berjalan di sekat bakar yang dibuat. Jalur ini harusnya aman, karena kebakaran di sisi kanan sudah pada tahap pendinginan. Dari jalur utama, kami masuk beberapa puluh meter. Dan mendadak berhenti karena mendengar bunyi gemeretuk api membakar daun dan dahan. Awalnya hanya terlihat asap, tetapi tak lama kemudian daun-daun yang hijau pun tunduk dengan api yang membesar cepat. Kami segera berbalik arah.

Pengalaman di tengah kebakaran besar seperti ini mengingatkan pada kenangan wedhus gembel Merapi yang seakan mengejar. Padahal jaraknya bisa jadi masih jauh. Besarnya wedhus gembel membuat takut setengah mati. Pun di Londrang ini.  Arah angin tak mudah ditebak. Kami tak ingin terjebak dari kepungan asap dan api.

“Sudah cukup lama kami di sini. Membuat posko utama untuk mengatur petugas pemadam kebakaran,” ujar pimpinan pasukan pemadam kebakaran ketika kami jumpai di posko tak jauh dari HLG Londrang.  Pasukan juga sudah ditambah berkali-kali. Begitu juga dengan peralatan berat dan heli. Hampir 200 orang petugas pemadam kebakaran bertugas silih berganti.

Mereka sibuk berkoordinasi di tenda utama. Pasukan harus dibagi menjadi lebih kecil-kecil lagi, masing- masing tim harus bertanggung jawab memadamkan segera kebakaran di wilayahnya. Bila api membesar, mereka harus minta bantuan segera.

Radio komunikasi tak berhenti melaporkan kondisi dari masing-masing wilayah. Ini jantung mereka. Saat sinyal handphone tak ada, radio panggil menjadi sarana utama. Jangan tanya apa warna seragam mereka lagi. Yang merah tak lagi cerah. Begitu pula oranye. Semua bercampur debu dan tanah.

Berjibaku dengan kebakaran besar seperti saat ini, modalnya tak cukup sekop dan selang saja. Perlu alat berat untuk membuat jalur distribusi pasukan dan peralatan bisa masuk segera. Terlebih di lahan gambut, pembasahan menjadi prioritas utama.

Sebelumnya kami sudah tengok Sungai Batanghari. Sungai yang menjadi nadi di wilayah ini. Penyedotan air perlu dilakukan dengan pompa kapasitas tertentu untuk segera dialirkan ke kanal-kanal yang ada. Petugas pun disiagakan di sini siang dan malam. Bukan baru sekarang saja karena ada kebakaran pembasahan lahan dilakukan. Bila tak ada Sungai Batanghari, bisa dibayangkan betapa makin sulitnya menjinakkan api.

Di lahan gambut, pengaturan air menjadi kunci. Tak  hanya mengalirkan air ke kanal-kanal, tetapi secara rutin kanal pun harus dicuci. Pernah dengar istilah ini? Jangan bayangkan seperti mencuci pakaian.  Mencuci kanal memerlukan alat berat yang mampu mengeruk sedimen kanal kembali ke batasan standar.

Petugas pemadam kebakaran ini tak hanya memerlukan fisik teruji. Kecerdasan membaca situasi dan mengkalkulasi peralatan dan sumber daya manusiapun harus mereka kuasai. Tak layak rasanya kita memaki, bila tahu betapa dekatnya nyawa mereka dengan api.

 

 

Tak Semudah Bilang OK Google……

Pemadaman kebakaran ini tak semudah perintah suara di Google Voice Assistant yang tinggal bilang: OK Google turunkan hujan.

Turun dari ketingting, senja sudah hampir lenyap.  Pendamping yang duduk di ujung perahu hanya nampak siluet hitam saja. Semak-semak di kiri kanan jalur air nampak bagai jajaran bayangan hitam. Kami melihat satu dua orang petugas pemadam kebakaran turun  mendekati air. Jangan tanya siapa saja mereka, untuk melihat wajah mereka pun kami tak bisa.

Untung tak lama ketingting sampai. Turun dari kapal, saya mengajak dokter Irma Mariani Sitohang (28) duduk di atas  gulungan selang. Ini jelas pilihan yang lebih bersih dibandingkan beralas rumput yang seharian disiram debu. Satu dua tanya saya lontarkan. Tapi tangan saya tak mau berhenti mengusap celana lapangan. Serbuan nyamuk hutan tak kenal ampun. Digigitnya tak seberapa, tapi sisa panas yang ditinggalkan di permukaan kulit menyebalkan sekali. Sakit, gatal dan panas. Baju lapangan macam apapun, rasanya tak luput dari serbuan nyamuk.

“Pindah ke tenda yuk dok,” ajak saya.

Satu-satunya tempat dengan penerangan di tempat ini. Mungkin sekitar 15 watt lampu hemat energi. Saya memilih duduk dekat lampu. Saya pikir, nyamuk akan malu kalau terlihat di tempat terang. Ternyata salah. Nyamuk mungkin menyingkir, tetapi serangga penyuka cahaya datang mengeroyok muka dan nempel di permukaan baju. Seliweran mereka sangat mengganggu. Dan jumlahnya banyak. Orang lain yang jauh dari cahaya Nampak tenang-tenang saja, melanjutkan obrolan di posko utama pemadam kebakaran di Simpang Tiga, Sei Baung, Sumatera Selatan. Posko yang didirikan oleh mitra Sinar Mas yaitu PT Bumi Mekar Hijau.

“Duh, salah posisi lagi,” ujar saya. Dokter hanya mesem saja. Perempuan 27 tahun ini memang kalem penampilannya. Mungkin terbiasa menghadapi kedaruratan saat sekolah dulu. “Ini juga pengalaman baru buat saya, memeriksa pasukan pemadaman kebakaran di sudut-sudut yang sulit dijangkau dan tidak mungkin mereka tinggalkan pekerjaannya,” ujarnya menceritakan perjalanan hari ini.

Hari itu kami mendatangi tiga posko kecil, tempat pemadam kebakaran beristirahat di malam hari. Pemeriksaan pertama di velbed depan tenda mereka. Karena lokasi pendinginan wilayah yang terbakar tak jauh dari tenda, petugas mau datang untuk diperiksa kesehatannya.

“Saya di sini saja. Jangan dekat-dekat, sudah beberapa hari tak mandi,” ujar Imam yang berbadan gempal. Seragam merahnya sudah bercampur tanah dan debu. Begitu juga Eko dan Rudi. Sudah hampir dua minggu mereka bertugas di tempat ini. Kebakaran semak dan pohon-pohon gelam tak bisa dianggap enteng. Ini lebih karena luasannya.

“Ada banyak air kenapa tidak mandi?” tanya saya.  Tentu saja ini pertanyaan bodoh. Karena di ujung selang tempat mereka mengambil air, yang  kami lihat hanya air coklat, bercampur lumpur. “Kalau dipaksakan mandi, dijamin badan akan merah-merah dan gatalan seketika. Lama-lama jadi luka,” ujar Eko. Mandi tak mandi memang jadi masala. Keringat bercampur air saat bertugas hanya menyemai biang-biang penyakit kulit saja.

“Dok, selain oksigen, kami ditinggali bedak juga ya,” pinta Rudi usai diperiksa dokter Irma.

“Jangan dipakai di muka ya, tidak ada yang naksir juga di sini,” canda Irma.

Rudi, Eko dan Imam, tak mandi berhari-hari sudah biasa saat mereka tengah berjibaku memadamkan api atau melakukan pendinginan di wilayah yang baru saja terbakar. Bayangkan, berhari-hari tak mandi. Sementara panas di lokasi mendekati angka 40 derajat. “Makanya jangan dekat-dekat ya Bu duduknya,” ujar Imam jengah. Ia takut, kami mencium bau badannya. Jangan berharap ada toilet pula. Untuk buang air kecil, mungkin tak ada masalah bagi petugas yang laki-laki semua ini. Tapi buang air besar? Entahlah. Yang jelas, di jemuran darurat belakang tenda, yang ada hanya celana dalam saja yang dicuci. Baju-baju kotor disampirkan saja di tali.

Di tempat kedua, tak mungkin kami meminta petugas pemadam kebakaran mendekati kami yang  berhenti di dekat  tenda. Beberapa asap putih masih nampak dan pendinginan tak mungkin ditinggalkan. Dokter Irma dan dua paramedis yang menghampiri mereka. Bergantian petugas tersebut diperiksa tensi, ditanya kesehatannya dan juga diberikan oksigen portable yang dibawa tim medis kemana pun mereka melakukan pemeriksaan.

Dua tempat ini bisa kami lalui dengan mobil dobel gardan. Jalur sudah dibuka dengan excavator, sekaligus dijadikan sekat bakar. Nah di tempat ketiga, kami harus naik ketingting atau perahu ketek. Kami memilih ketingting karena muat lebih banyak penumpang. Dokter, dua paramedis dan pendamping masuk semua. Meski kami harus berhati-hati menjaga keseimbangan.  Kalau naik perahu ketek, hanya muat tiga penumpang saja.

Irma, Intan dan Putri mencengkeram erat pinggiran perahu. Satu tangan lagi saling berpegangan di antara mereka. Saya yakin mereka tidak takut. Hanya menunggu perahu lebih stabil saja saat melaju lebih kencang.

Tak sampai 30 menit, kami menepi. Naik ke hamparan gelam yang terbakar. Satu meteran tingginya dari permukaan sungai. Lalu melanjutkan jalan kaki, beberapa puluh meter ke dalam sisa-sisa gelam dan semak yang terbakar. Kaki harus hati-hati melangkah karena akar-akar tanaman bisa menjerat langkah kami. Pun permukaan tanah yang tak rata bisa membuat kami terjatuh di sisa-sisa kebakaran.

Kami menjumpai 3 petugas pemadam kebakaran dari PT Bumi Mekar Hijau, mitra  pemasok APP Sinar Mas. Kali ini tak ada lagi tempat yang bisa dipakai untuk meletakkan pantat. Hamparan yang ada basah oleh pendinginan yang dilakukan petugas. Jadilah dokter bercakap dengan mereka sambil berdiri.

Sepanjang perjalanan hari itu, sudah tak banyak petugas yang memakai seragam mereka. Selain karena sudah berminggu-minggu, seragam sudah kotor semua. Tak jarang celana mereka pun sobek tersangkut pohon-pohonan.

“kami minta hujan sajalah. Mau disemprot air tiap hari, kalau tak ada hujan, ndak banyak berarti. Hanya hujan yang mampu menghentikan kebakaran ini,” ujar Imam. Permintaan sederhana. Dengan air hujan pula, tubuh lusuh mereka akan terkuyur air dengan sempurna tanpa takut gatal-gatal.

Kadang kita yang tinggal jauh di kota, abai dengan keberadaan mereka. Hanya nyinyir saja soal kebakaran yang tak kunjung padam. Mereka abai dengan dirinya hanya untuk memastikan bahaya kebakaran tak meluas dan membahayakan orang lain. Dan saya jadi malu pada diri sendiri yang mengeluh karena serangan nyamuk dan serangga hutan yang bertubi. Pemadaman kebakaran ini tak semudah perintah suara di Google Voice Assistant yang tinggal bilang: OK Google turunkan hujan.