Terlibas Waktu

Beberapa waktu yang lalu saya ngobrol dengan seorang pengelana dari Jepang. Pengelana? Ya saya menyebutnya begitu. Karena dia mendedikasikan hidupnya untuk berkelana dari satu Negara ke Negara lain. Namanya Shunichiro Hori. Kami lancar bercakap, karena Hori tak seperti orang Jepang pada umumnya yang pendiam. Hori sangat suka bercerita. Bahasa Indonesianya sangat bagus untuk orang yang belajar asing secara otodidak. Bahasa-bahasa slank pun dia kuasai. Rumpies, baper dan banyak lagi kata yang biasanya digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Yang menarik dari Hori selain cerita perjalanannya, ia menarget dalam 7-8 ke depan bisa menguasai keahlian sebagai copy writer. Copy Writer di Jepang sangat berbeda dengan di Indonesia. Sangat khusus. Bukan pekerjaannya yang menarik perhatian saya. Tetapi alasan Hori menargetkan diri untuk mengejar pekerjaan tersebut. “Saya ingin melakukan pekerjaan itu sebelum semuanya dikuasai oleh robot atau mesin,” ujarnya ringkas tetapi justru membuat saya termangu.

Continue reading “Terlibas Waktu”