Tak Semudah Bilang OK Google……

Pemadaman kebakaran ini tak semudah perintah suara di Google Voice Assistant yang tinggal bilang: OK Google turunkan hujan.

Turun dari ketingting, senja sudah hampir lenyap.  Pendamping yang duduk di ujung perahu hanya nampak siluet hitam saja. Semak-semak di kiri kanan jalur air nampak bagai jajaran bayangan hitam. Kami melihat satu dua orang petugas pemadam kebakaran turun  mendekati air. Jangan tanya siapa saja mereka, untuk melihat wajah mereka pun kami tak bisa.

Untung tak lama ketingting sampai. Turun dari kapal, saya mengajak dokter Irma Mariani Sitohang (28) duduk di atas  gulungan selang. Ini jelas pilihan yang lebih bersih dibandingkan beralas rumput yang seharian disiram debu. Satu dua tanya saya lontarkan. Tapi tangan saya tak mau berhenti mengusap celana lapangan. Serbuan nyamuk hutan tak kenal ampun. Digigitnya tak seberapa, tapi sisa panas yang ditinggalkan di permukaan kulit menyebalkan sekali. Sakit, gatal dan panas. Baju lapangan macam apapun, rasanya tak luput dari serbuan nyamuk.

“Pindah ke tenda yuk dok,” ajak saya.

Satu-satunya tempat dengan penerangan di tempat ini. Mungkin sekitar 15 watt lampu hemat energi. Saya memilih duduk dekat lampu. Saya pikir, nyamuk akan malu kalau terlihat di tempat terang. Ternyata salah. Nyamuk mungkin menyingkir, tetapi serangga penyuka cahaya datang mengeroyok muka dan nempel di permukaan baju. Seliweran mereka sangat mengganggu. Dan jumlahnya banyak. Orang lain yang jauh dari cahaya Nampak tenang-tenang saja, melanjutkan obrolan di posko utama pemadam kebakaran di Simpang Tiga, Sei Baung, Sumatera Selatan. Posko yang didirikan oleh mitra Sinar Mas yaitu PT Bumi Mekar Hijau.

“Duh, salah posisi lagi,” ujar saya. Dokter hanya mesem saja. Perempuan 27 tahun ini memang kalem penampilannya. Mungkin terbiasa menghadapi kedaruratan saat sekolah dulu. “Ini juga pengalaman baru buat saya, memeriksa pasukan pemadaman kebakaran di sudut-sudut yang sulit dijangkau dan tidak mungkin mereka tinggalkan pekerjaannya,” ujarnya menceritakan perjalanan hari ini.

Hari itu kami mendatangi tiga posko kecil, tempat pemadam kebakaran beristirahat di malam hari. Pemeriksaan pertama di velbed depan tenda mereka. Karena lokasi pendinginan wilayah yang terbakar tak jauh dari tenda, petugas mau datang untuk diperiksa kesehatannya.

“Saya di sini saja. Jangan dekat-dekat, sudah beberapa hari tak mandi,” ujar Imam yang berbadan gempal. Seragam merahnya sudah bercampur tanah dan debu. Begitu juga Eko dan Rudi. Sudah hampir dua minggu mereka bertugas di tempat ini. Kebakaran semak dan pohon-pohon gelam tak bisa dianggap enteng. Ini lebih karena luasannya.

“Ada banyak air kenapa tidak mandi?” tanya saya.  Tentu saja ini pertanyaan bodoh. Karena di ujung selang tempat mereka mengambil air, yang  kami lihat hanya air coklat, bercampur lumpur. “Kalau dipaksakan mandi, dijamin badan akan merah-merah dan gatalan seketika. Lama-lama jadi luka,” ujar Eko. Mandi tak mandi memang jadi masala. Keringat bercampur air saat bertugas hanya menyemai biang-biang penyakit kulit saja.

“Dok, selain oksigen, kami ditinggali bedak juga ya,” pinta Rudi usai diperiksa dokter Irma.

“Jangan dipakai di muka ya, tidak ada yang naksir juga di sini,” canda Irma.

Rudi, Eko dan Imam, tak mandi berhari-hari sudah biasa saat mereka tengah berjibaku memadamkan api atau melakukan pendinginan di wilayah yang baru saja terbakar. Bayangkan, berhari-hari tak mandi. Sementara panas di lokasi mendekati angka 40 derajat. “Makanya jangan dekat-dekat ya Bu duduknya,” ujar Imam jengah. Ia takut, kami mencium bau badannya. Jangan berharap ada toilet pula. Untuk buang air kecil, mungkin tak ada masalah bagi petugas yang laki-laki semua ini. Tapi buang air besar? Entahlah. Yang jelas, di jemuran darurat belakang tenda, yang ada hanya celana dalam saja yang dicuci. Baju-baju kotor disampirkan saja di tali.

Di tempat kedua, tak mungkin kami meminta petugas pemadam kebakaran mendekati kami yang  berhenti di dekat  tenda. Beberapa asap putih masih nampak dan pendinginan tak mungkin ditinggalkan. Dokter Irma dan dua paramedis yang menghampiri mereka. Bergantian petugas tersebut diperiksa tensi, ditanya kesehatannya dan juga diberikan oksigen portable yang dibawa tim medis kemana pun mereka melakukan pemeriksaan.

Dua tempat ini bisa kami lalui dengan mobil dobel gardan. Jalur sudah dibuka dengan excavator, sekaligus dijadikan sekat bakar. Nah di tempat ketiga, kami harus naik ketingting atau perahu ketek. Kami memilih ketingting karena muat lebih banyak penumpang. Dokter, dua paramedis dan pendamping masuk semua. Meski kami harus berhati-hati menjaga keseimbangan.  Kalau naik perahu ketek, hanya muat tiga penumpang saja.

Irma, Intan dan Putri mencengkeram erat pinggiran perahu. Satu tangan lagi saling berpegangan di antara mereka. Saya yakin mereka tidak takut. Hanya menunggu perahu lebih stabil saja saat melaju lebih kencang.

Tak sampai 30 menit, kami menepi. Naik ke hamparan gelam yang terbakar. Satu meteran tingginya dari permukaan sungai. Lalu melanjutkan jalan kaki, beberapa puluh meter ke dalam sisa-sisa gelam dan semak yang terbakar. Kaki harus hati-hati melangkah karena akar-akar tanaman bisa menjerat langkah kami. Pun permukaan tanah yang tak rata bisa membuat kami terjatuh di sisa-sisa kebakaran.

Kami menjumpai 3 petugas pemadam kebakaran dari PT Bumi Mekar Hijau, mitra  pemasok APP Sinar Mas. Kali ini tak ada lagi tempat yang bisa dipakai untuk meletakkan pantat. Hamparan yang ada basah oleh pendinginan yang dilakukan petugas. Jadilah dokter bercakap dengan mereka sambil berdiri.

Sepanjang perjalanan hari itu, sudah tak banyak petugas yang memakai seragam mereka. Selain karena sudah berminggu-minggu, seragam sudah kotor semua. Tak jarang celana mereka pun sobek tersangkut pohon-pohonan.

“kami minta hujan sajalah. Mau disemprot air tiap hari, kalau tak ada hujan, ndak banyak berarti. Hanya hujan yang mampu menghentikan kebakaran ini,” ujar Imam. Permintaan sederhana. Dengan air hujan pula, tubuh lusuh mereka akan terkuyur air dengan sempurna tanpa takut gatal-gatal.

Kadang kita yang tinggal jauh di kota, abai dengan keberadaan mereka. Hanya nyinyir saja soal kebakaran yang tak kunjung padam. Mereka abai dengan dirinya hanya untuk memastikan bahaya kebakaran tak meluas dan membahayakan orang lain. Dan saya jadi malu pada diri sendiri yang mengeluh karena serangan nyamuk dan serangga hutan yang bertubi. Pemadaman kebakaran ini tak semudah perintah suara di Google Voice Assistant yang tinggal bilang: OK Google turunkan hujan.