Hidup yang Tertawa

Kursi merah. Tembok hijau. Dan lampu neon yang menyala terang. Tadinya ruangan itu sangat terang buat saya. Tapi rasanya lalu meredup saat seorang kawan, iya kawanku, dan kawan kamu juga, yang sudah beberapa hari terbaring di kasur rumah sakit itu ingin bilang sesuatu.

Suaranya yang tak terlalu jelas membuat aku harus menarik kursi merah lebih dekat ke tempat tidurnya. “Sini nduk,” ujarnya. Ya, dia memanggil saya nduk. Panggilan anak perempuan di Jawa. Kami sudah sangat lama berteman. Jadi saya cuek saja dengan panggilan nduk itu. Pertemanan kami sudah mendarah hingga jadi saudara.

“Jadi gini nduk, kata dokter aku kena kanker,” wajahnya lempeng saja saat bilang begitu. Lempeng, santai dan tanpa beban. “Tapi tenang saja. Ndak apa-apa. Aku akan jalani semua prosesnya. Semua proses pengobatan sampai selesai,” lanjutnya.

Continue reading “Hidup yang Tertawa”