Life at Sinar Mas

Namanya Yan Partawidjaja. Yan kependekatan dari Agustian tepatnya. Sejak saya SD (kira-kira sekian kali ganti presiden yang lalu), pembaca berita ini selalu menarik perhatian saya. Suaranya mencuri telinga saya. Khas. Bahkan hingga saat ini. Tidak berubah. Suara emas yang selalu diburu teman-teman kreatif dan produksi untuk mengisi suara video yang digarap oleh Ferdian Harry Setiono. Lebih sering diminta menjadi MC dan moderator. Dan sekarang bertambah: pembaca doa. Entah kenapa kami suka sekali mendengarkan Pak Yan membaca doa. Tidak lebay, tidak berlebihan, tetapi menyentuh hati.

Usianya sudah diangka 60 an saat ini. Tapi bila foto dari muda sampai saat ini dijejer, tak banyak perubahannya. Kecuali kacamata segede gaban di saat muda dan baca berita dulu sudah berganti model dan stylis.

Tanpa melihat wajah, mendengar suara Pak Yan, memori kita akan terpanggil ke masa lalu, zaman TVRI. Setelah melihat wajah, kita diingatkan, tak banyak yang berubah dari penampilan beliau.

Continue reading “Life at Sinar Mas”

Hidup yang Tertawa

Kursi merah. Tembok hijau. Dan lampu neon yang menyala terang. Tadinya ruangan itu sangat terang buat saya. Tapi rasanya lalu meredup saat seorang kawan, iya kawanku, dan kawan kamu juga, yang sudah beberapa hari terbaring di kasur rumah sakit itu ingin bilang sesuatu.

Suaranya yang tak terlalu jelas membuat aku harus menarik kursi merah lebih dekat ke tempat tidurnya. “Sini nduk,” ujarnya. Ya, dia memanggil saya nduk. Panggilan anak perempuan di Jawa. Kami sudah sangat lama berteman. Jadi saya cuek saja dengan panggilan nduk itu. Pertemanan kami sudah mendarah hingga jadi saudara.

“Jadi gini nduk, kata dokter aku kena kanker,” wajahnya lempeng saja saat bilang begitu. Lempeng, santai dan tanpa beban. “Tapi tenang saja. Ndak apa-apa. Aku akan jalani semua prosesnya. Semua proses pengobatan sampai selesai,” lanjutnya.

Continue reading “Hidup yang Tertawa”