Tak Layak Kita Memaki

Hutan lindung gambut (HLG) Londrang sepertinya lebih banyak puing ketimbang pohon tegak berdiri, kini. Dihajar api berhari-hari, pohonpun tak kuat lagi berdiri. Terlebih material bakar banyak dijumpai di hutan lindung gambut tersebut. Bila siang, mendekati daerah tersebut, mungkin kita hanya menjumpai perih di mata.

Kami berjalan di sekat bakar yang dibuat. Jalur ini harusnya aman, karena kebakaran di sisi kanan sudah pada tahap pendinginan. Dari jalur utama, kami masuk beberapa puluh meter. Dan mendadak berhenti karena mendengar bunyi gemeretuk api membakar daun dan dahan. Awalnya hanya terlihat asap, tetapi tak lama kemudian daun-daun yang hijau pun tunduk dengan api yang membesar cepat. Kami segera berbalik arah.

Pengalaman di tengah kebakaran besar seperti ini mengingatkan pada kenangan wedhus gembel Merapi yang seakan mengejar. Padahal jaraknya bisa jadi masih jauh. Besarnya wedhus gembel membuat takut setengah mati. Pun di Londrang ini.  Arah angin tak mudah ditebak. Kami tak ingin terjebak dari kepungan asap dan api.

“Sudah cukup lama kami di sini. Membuat posko utama untuk mengatur petugas pemadam kebakaran,” ujar pimpinan pasukan pemadam kebakaran ketika kami jumpai di posko tak jauh dari HLG Londrang.  Pasukan juga sudah ditambah berkali-kali. Begitu juga dengan peralatan berat dan heli. Hampir 200 orang petugas pemadam kebakaran bertugas silih berganti.

Mereka sibuk berkoordinasi di tenda utama. Pasukan harus dibagi menjadi lebih kecil-kecil lagi, masing- masing tim harus bertanggung jawab memadamkan segera kebakaran di wilayahnya. Bila api membesar, mereka harus minta bantuan segera.

Radio komunikasi tak berhenti melaporkan kondisi dari masing-masing wilayah. Ini jantung mereka. Saat sinyal handphone tak ada, radio panggil menjadi sarana utama. Jangan tanya apa warna seragam mereka lagi. Yang merah tak lagi cerah. Begitu pula oranye. Semua bercampur debu dan tanah.

Berjibaku dengan kebakaran besar seperti saat ini, modalnya tak cukup sekop dan selang saja. Perlu alat berat untuk membuat jalur distribusi pasukan dan peralatan bisa masuk segera. Terlebih di lahan gambut, pembasahan menjadi prioritas utama.

Sebelumnya kami sudah tengok Sungai Batanghari. Sungai yang menjadi nadi di wilayah ini. Penyedotan air perlu dilakukan dengan pompa kapasitas tertentu untuk segera dialirkan ke kanal-kanal yang ada. Petugas pun disiagakan di sini siang dan malam. Bukan baru sekarang saja karena ada kebakaran pembasahan lahan dilakukan. Bila tak ada Sungai Batanghari, bisa dibayangkan betapa makin sulitnya menjinakkan api.

Di lahan gambut, pengaturan air menjadi kunci. Tak  hanya mengalirkan air ke kanal-kanal, tetapi secara rutin kanal pun harus dicuci. Pernah dengar istilah ini? Jangan bayangkan seperti mencuci pakaian.  Mencuci kanal memerlukan alat berat yang mampu mengeruk sedimen kanal kembali ke batasan standar.

Petugas pemadam kebakaran ini tak hanya memerlukan fisik teruji. Kecerdasan membaca situasi dan mengkalkulasi peralatan dan sumber daya manusiapun harus mereka kuasai. Tak layak rasanya kita memaki, bila tahu betapa dekatnya nyawa mereka dengan api.

 

 

Facebook Comments

Author: emmy

HIdup adalah Pesta. Harus dirayakan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *